Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’


Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.”
Beliau melanjutkan,
“Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya. Dan setiap kali bertambah amalnya maka bertambahlah keangkuhannya, dia semakin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya maka bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya maka dia semakin pelit dan tidak mau membantu sesama. Dan setiap kali meningkat kedudukan dan derajatnya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakan dirinya. Ini semua adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga akan berbahagialah sebagian kelompok, dan sebagian kelompok yang lain akan binasa. Begitu pula halnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang ada seperti kekuasaan, pemerintahan, dan harta benda. Allah ta’ala menceritakan ucapan Sulaiman tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah berada di sisinya (yang artinya), “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml : 40).”

Kembali beliau memaparkan,
“Maka pada hakekatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang menimpanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’ Sekali-kali bukanlah demikian…” (QS. Al Fajr : 15-17). Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezkinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.” (Al Fawa’id, hal. 149).
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Kamis, 21 Januari 2010

Berprestasi dengan Motivasi


Salah satu kunci agar kita bisa sukses hidup di dunia adalah motivasi. Makin besar motivasi kita untuk memperbaiki diri dan maju, kemungkinan sukses pun akan kian besar.

Motivasi seseorang sangat ditentukan oleh tingkat harapannya terhadap sesuatu. Karena itu, ada tiga hal yang berkaitan erat denga prestasi, yaitu :

1. prestasi itu sendiri,
2. motivasi, dan
3. harapan.

Prestasi bisa diraih karena adanya motivasi dan motivasi akan tumbuh jika ada harapan.

Banyak manusia lebih sering mengeluarkan alasan ketimbang berbuat. Lebih mengkhawatirkan, semua itu terlahir hanya untuk menutupi kemalasan dan kegagalannya.

Ketika ditanya, misalnya, "Mengapa Anda tidak kuliah?"

Jawaban yang sering muncul adalah tidak punya uang, atau karena orang tua tidak sanggup membiayai, minder, dan sebagainya. Padahal, jika seseorang mau berbuat, semua itu bisa disiasati. Bisa dengan cara berwirausaha, atau mendapatkan beasiswa.

Begitu pula ketika ditanya, "Mengapa tidak mencoba berbisnis?"

Jawaban yang sering terlontar terlihat fatalis: takut gagal, tidak punya modal, banyak saingan, dan sebagainya. Karena itu, jangan heran jika kita tidak pernah maju. Bagaimana mau maju, motivasi untuk maju saja tidak ada?

Sebaik-baik sumber motivasi adalah ridha Allah SWT. Prestasi tertinggi seseorang dalam hal ini adalah mendapatkan surga. Sebaliknya, sumber motivasi terendah adalah dunia. Bila motivasi seseorang hanya tertuju pada dunia, yakinlah bahwa hanya kekecewaan yang akan ia dapatkan.

Seseorang yang berbisnis karena mencari dunia semata, akan kecewa bila bisnisnya merugi. Tapi bagi orang yang berbisnis karena Allah, setiap kegagalan bermakna pengalaman berharga untuk tidak jatuh dalam kegagalan serupa.

Ia juga akan menyadari bahwa semua terjadi karena izin Allah. Ia sadar bahwa keinginannya belum tentu sesuai menurut Allah. Tugasnya hanya meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, perkara hasil ada di tangan Allah sepenuhnya. Inilah hakikat motivasi menuju prestasi yang hakiki.

Selasa, 05 Januari 2010

SUKSES


Sukses, kondisi yang selalu diidam-idamkan semua orang. Untuk mencapainya perlu ketekunan dan kerja keras. Dalam kenyataannya, tidak sedikit dari kita suka merasa minder dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga potensi yang ada dibiarkan mati, tidak didayagunakan. Padahal, dengan usaha optimal dan tidak lekas berputus asa, seseorang dapat menggapai keberhasilan.

Konon, dalam sebuah cerita, ketika bayi gajah dilahirkan, para pawang mengikatnya dengan tali pada tiang yang tertancap kuat di tanah. Lama-kelamaan gajah itu pun belajar, ketika tali diletakkan di lehernya, ia tidak bisa pergi kemana-mana. Begitu beranjak dewasa, gajah itu hanya diikat pada tiang kecil yang bisa dengan mudah ia cabut. Tetapi ia tidak pernah berusaha untuk lepas karena telah terkondisi untuk mempercayai bahwa ketika tali sudah diikatkan di lehernya, ia tidak bisa pergi kemana-mana.

Prinsip yang sama sering dipakai oleh banyak orang. Karena menganggap tidak memiliki prestasi penting saat masa muda, mereka pasrah menjadi orang biasa dan tidak pernah berkeinginan untuk mencapai prestasi luar biasa. Mereka tidak sadar, para peraih prestasi besar tidak berbeda dengan kita semua, mereka hanya percaya, keberhasilan atau kegagalan masa silam bukan jaminan yang sebenarnya buat masa depan.

Setiap guru di sekolah menengah selalu memprediksi “siapa saja” murid yang memiliki kemungkinan besar untuk sukses menjadi manajer, direktur, jendral, bahkan presiden. Adapun kriteria penting yang dijadikan acuan, nilai, olah raga, dan popularitas, sehingga jika seorang murid tidak dapat meraih salah satu dari ke 3 kategori tersebut di atas, dimasukkan dalam murid “biasa” dan tidak ada seorang pun yang mengharapkan mereka meraih sesuatu yang besar dalam kehidupan.

Adalah Steven Spielberg, seorang murid sekolah menengah yang mampu mematahkan anggapan itu. Ia seorang anak dengan prestasi biasa, namanya kurang begitu populer, ia pun tidak memiliki kemampuan dalam bidang olah raga yang menonjol. Tak seorang pun menyangka ia akan menjadi orang yang sukeses. Saat ini ia menjadi seorang sutradara ngetop. Segala kejeniusan, kreatifitas, dan kecerdasannya tidak diketahui orang saat ia belajar di sekolah menengah. Baru diketahui kemudian, setelah ia dewasa.

Steven memang tidak meraih sesuatu yang besar saat sekolah menengah, tetapi sedikit orang yang tahu bakatnya di bidang lain: membuat film hiburan dengan kamera super 8 pemberian ibunya saat duduk di sekolah dasar, kadang-kadang ia sering mencuri waktu untuk aktifitas filmnya itu. Dengan giat dan tekun ia membuat film tersebut. Hasil kerja kerasnya telah membuahkan hasil, Steven Spielberg telah menjadi sutradara besar sekaligus jutawan yang sangat populer, sebutlah film-film ET, Jurassic Park, Godzila, dll. Semua filmnya laku keras dan selalu menjadi Box Office. Saat ini, empat dari sepuluh film terlaris yang beredar disutradarai oleh Steven Spielberg.

Ada hikmah yang terselip dibalik perjalanan Steven, kerja keras, ketekunan, dan menyingkirkan sikap putus asa merupakan sifat yang perlu ditiru oleh setiap pribadi muslim. Rasulullah saw. adalah suri tauladan terbaik bagi umat, dakwahnya bertahun-tahun dilaluinya dengan tekun, cobaan yang menerpa, ancaman yang melanda, dan rintangan yang menghadang dihadapinya dengan sikap sabar. Ia tidak lekas berputus asa ketika dakwahnya kurang mendapat sambutan. Selama 10 tahun, ia hanya mampu merekrut kader sebanyak 72 orang. Bayangkanlah jika Anda seorang da’i yang ditugasi mengenalkan Islam di suatu tempat, lalu selama bertahun-tahun Anda hanya mendapatkan beberapa gelintir orang yang mengikuti Anda. Akankah Anda terus berdakwah? Ataukah Anda akan cepat mengepak pakaian dan segera angkat kaki dengan hati gusar?

Ibarat air yang menetes di atas batu, lama kelamaan batu dapat dilubanginya. Begitu pula dalam berusaha. Tujuan penting yang hendak digapai melaui proses satu langkah demi satu langkah. Jika gagal, jangan putus asa, ambillah pelajaran darinya.

Manusia adalah makhluk yang berakal, tidaklah heran bila dikatakan al-insaanu hayawaanun nathiqun (manusia adalah hewan yang berakal). Manusia dengan akalnya memiliki sifat malaikat. Tetapi, manusia dengan syahwatnya memiliki sifat binatang. Jika syahwat mengalahkan akalnya, manusia akan lebih bodoh dari binatang. Jika akalnya mengalahkan syahwatnya, manusia akan lebih baik dari malaikat.

Akal yang diberikan Allah, hendaknya didayagunakan seoptimal mungkin. Kita bisa melihat betapa hebatnya seekor lebah, dengan bergotong-royong mereka membuat sarang yang sangat kuat, tahan goncangan. Mereka lakukan dengan kerja keras, tanpa lelah. Tak heran, hasil rancangan lebah tersebut dijadikan referensi bagi pembuatan rumah tahan gempa.

Sukses bagi setiap orang memang bervariasi. Sukses bagi seorang pengasong rokok adalah menjual 5 bungkus rokok sehari. Tapi Toko Grosir rokok dikatakan berhasil jika mampu menjual 5 box rokok. Lain lagi dengan pabrik rokok, dikatakan sukses jika mampu menjual rokok 3 juta batang perhari.

Barangkali, halangan dalam mengapai kesuksesan adalah perasaan gentar saat memandang posisi Anda sekarang dengan cita-cita yang Anda tuju. Terlalu jauh, itu tanggapan Anda. Jika Anda ditantang untuk melompat setinggi 6 meter, Anda akan berkata, “Saya tidak akan mampu meraihnya”, Anda benar. Tidak ada seorang pun yang mampu, Michael Jordan sekalipun. Tapi Anda harus ingat, yang Anda butuhkan papan setinggi 6 meter, paku, dan palu. Dengan alat tersebut, melompat setinggi 6 meter bukan masalah lagi.

Yang penting, kerja keras sangatlah diperlukan untuk menggapai kesuksesan. Jika semua pintu terkunci, buatlah jendela. Setiap kesulitan yang menghadang harus dihadapi dengan sabar. “Sesungguhnya dibalik kesusahan ada kemudahan.”